JAKARTA - Perubahan perilaku masyarakat yang semakin mengandalkan layanan perbankan digital membawa dampak besar bagi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang 2025.
Aktivitas transaksi nasabah meningkat signifikan, mencerminkan kebutuhan layanan keuangan yang serba cepat, praktis, dan terintegrasi dengan gaya hidup modern. Dalam periode tersebut, BCA mencatat total frekuensi transaksi mencapai 42 miliar atau tumbuh 17% secara tahunan (year on year/YoY).
Pada momen tersibuk, sistem BCA bahkan mampu memproses hampir 300 juta transaksi hanya dalam satu hari.
Peningkatan ini terutama ditopang oleh kanal digital. "Frekuensi transaksi mobile banking dan internet banking tumbuh 19% YoY. Pendapatan bunga bersih (net interest income) BCA tumbuh 4,1% YoY, dan pendapatan selain bunga naik 16% YoY.
Secara total, pendapatan operasional BCA naik 5,4% YoY," kata Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk Hendra Lembong dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja FY 2025 PT Bank Central Asia (BBCA).
Efisiensi Membaik, Laba Bersih Tetap Tumbuh
Kinerja operasional BCA juga ditopang oleh perbaikan rasio efisiensi. Rasio cost to income (CIR) yang semakin baik turut memperkuat fondasi keuangan perseroan. Kondisi ini membantu mendorong pertumbuhan laba bersih BCA sebesar 4,9% YoY hingga mencapai Rp57,5 triliun pada akhir 2025.
“Kami senantiasa berupaya menyediakan produk dan layanan secara optimal untuk memenuhi beragam kebutuhan nasabah dan masyarakat," ujarnya.
Fokus BCA tidak hanya pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga pada penyempurnaan layanan digital yang makin relevan. Sepanjang 2025, aplikasi myBCA terus dikembangkan dengan berbagai fitur tambahan yang memudahkan transaksi sehari-hari.
Pengguna Android kini dapat memanfaatkan QRIS Tap via NFC Pay, sementara fitur lain seperti pembayaran zakat, pembelian tiket kereta dan kapal, hingga penambahan berbagai valuta asing pada poket valas juga dihadirkan.
Inovasi tidak berhenti di situ. Kini myBCA sudah dapat diakses melalui perangkat smartwatch berbasis WearOS dan Apple.
Aplikasi ini juga menyediakan pilihan bahasa Mandarin serta fitur poket rupiah yang membantu nasabah mengatur berbagai kebutuhan keuangan dalam satu rekening secara lebih rapi dan terencana.
"Kami juga mengimplementasikan penggunaan Artificial Intelligence untuk meningkatkan pelayanan nasabah, mengidentifikasi kebutuhan nasabah secara lebih efektif, memperkuat keamanan dan fraud detection, serta mendorong efisiensi operasional," ujar Hendra Lembong.
Penyaluran Kredit Tumbuh Seiring Pemulihan Ekonomi
Dari sisi intermediasi, BCA dan entitas anak membukukan pertumbuhan total kredit sebesar 7,7% YoY menjadi Rp993 triliun per Desember 2025. Jika dirata-ratakan sepanjang tahun, pertumbuhan kredit perseroan mencapai 10,8%.
Penyaluran pembiayaan tersebut mengalir ke berbagai sektor penting, termasuk manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, serta rumah tangga.
Pertumbuhan ini sejalan dengan peran BCA dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional. Di sisi pendanaan, dana murah atau current account saving account (CASA) meningkat 13,1% YoY menjadi Rp1.045 triliun.
Kenaikan CASA menunjukkan kepercayaan nasabah yang tetap kuat sekaligus memperkuat struktur pendanaan perseroan.
“BCA berterima kasih kepada seluruh nasabah atas kepercayaan dan dukungannya kepada kami. Hal tersebut menjadi motivasi kami terus bergerak dan berkontribusi bagi ekonomi di seluruh penjuru Tanah Air.
Dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu kami melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif," ujarnya.
Pembiayaan Konsumer Tetap Solid, KPR Dominan
Segmen konsumer juga memberikan kontribusi penting. BCA mencatat pembiayaan konsumer berada di level Rp224,1 triliun.
Angka tersebut terutama ditopang oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai Rp142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) sebesar Rp56,6 triliun.
Selain itu, BCA mulai berpartisipasi dalam penyaluran KPR subsidi atau FLPP swasta sejak Oktober 2025.
Langkah ini memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan hunian sekaligus mempertegas komitmen perseroan dalam mendukung program perumahan nasional. Sementara itu, outstanding pinjaman konsumer lain—yang mayoritas berasal dari kartu kredit—tumbuh 9,8% YoY menjadi Rp25,2 triliun.
Kualitas Kredit Terjaga di Tengah Ekspansi
Di tengah ekspansi pembiayaan, kualitas aset BCA tetap terjaga dengan baik. Rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 4,8%, turun dari 5,3% pada tahun sebelumnya. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga terkendali di level 1,7%.
Perlindungan terhadap risiko kredit pun diperkuat melalui pencadangan yang memadai. Rasio pencadangan untuk NPL tercatat sebesar 183,8%, sedangkan pencadangan untuk LAR berada di level 71,6%.
Kondisi ini memberikan bantalan yang cukup kuat bagi perseroan dalam mengantisipasi potensi risiko ke depan.
Dengan kombinasi pertumbuhan transaksi digital, ekspansi kredit yang selektif, inovasi layanan berbasis teknologi, serta kualitas aset yang terjaga, BCA menutup 2025 dengan fondasi bisnis yang tetap solid.
Transformasi digital yang konsisten dijalankan menjadi salah satu kunci utama perseroan dalam menjaga relevansi sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tengah dinamika kebutuhan nasabah yang terus berkembang.